Home » » Flashback 10 Permainan di Masa Kecil

Flashback 10 Permainan di Masa Kecil

Semakin tua Indonesia maka semakin modern-lah zamannya, seperti halnya di tahun 2013 ini, semakin maraknya teknologi yang membuat anak semakin smart dengan berbagai bentuk smartphone yang membuat generasi muda mendapat gelar Generasi Nunduk. Bagaimana tidak, terlihat di mana-mana, anak SD saja sudah pintar mengenakan blackberry, ipad, tablet dan sebagainya. Sudah tidak terlihat lagi anak-anak yang bermain permainan tradisional, karena sudah ada smartphone yang benar-benar membuat generasi semakin pintar, karena itu adalah tuntutan zaman.
Dan lagi-lagi bukan untuk menyalahkan zaman, hanya sekedar untuk bernostalgia dengan permainan-permainan di masa kecil yang kini sangat-sangat dirindukan, permainan-permainan yang membentuk karakter kekeluargaan, dan itu sudah hampir punah tertelan zaman pula. Dan inilah 10 permainan kita di masa kecil dulu, atau mungkin lebih banyak lagi, pun 10 permainan ini sudah hampir tak terdengar lagi, tak terlihat lagi.


1. Petak Umpet
Deskripsi permainan: Sekumpulan anak mengundi dengan hompimpa (seluruh telapak tangan anak-anak di satukan menjadi tumpukan, kemudian seluruh anak serentak menyebutkan kalimat hompimpa alaium gambreng, bila kebanyakan yang membuka telapak tangan daripada pungguk tangan, maka yang membuka telapak tangan tersebut sudah dianggap menang, seterusnya dicari sampai tinggal dua pasang anak), kemudian mencari siapa yang paling terakhir kalah pada sesi suit, dan yang terakhir kalah tersebut harus bersedia menjadi anak yang harus di tutup matanya dan bersandar di tembok, dalam waktu yang telah ditentukan maka anak tersebut harus mencari teman-temannya yang tengah bersembunyi dalam keadaan mata terbuka. Seterusnya siapa yang tertangkap maka anak tersebutlah yang harus ditutup matanya.

2. Patah Pinggang
Deskripsi permainan: Cari satu buah batu yang gepeng, yang bisa diposisikan berdiri di atas tanah. Dan satu batu yang gepeng pula yang jadikan senjata untuk masing-masing anak. Kemudian sekumpulan anak beradu dengan hompimpa untuk mengundi urutan siapa yang akan bermain duluan. Setelah ditemukan urutan anak yang akan bermain, maka dimulailah permainan dengan meletakkan batu milik masing-masing anak di atas punggung kaki, kemudian dengan jarak yang ditentukan, kaki tersebut diayunkan kemudian diarahkan ke batu gepeng yang posisinya berdiri di atas tanah sebagai titik acuan, jika batu gepeng yang di atas tanah tersebut jatuh hingga posisinya tertidur, maka anak tersebut boleh melanjutkan permainan dengan gaya lempar batu gepeng hingga sampai pada posisi yang namanya patah pinggang. Namun jika belum berhasil, anak tersebut akan digantikan oleh teman lain dengan urutan selanjutnya, dan anak yang kalah tadi harus mengantri lagi pada urutan terakhir. Posisi patah pinggang tersebut adalah seperti posisi menungging, namun posisi menunggingnya terbalik, kepala di arahkan ke belakang mengarah pada punggung belakang kita, kemudian dengan posisi tersebutlah seorang anak melempar batu gepengnya ke arah batu gepeng acuan dengan pandangan seperti kaki di kepala, kepala di kaki.

3. Kuda Loncat
Deskripsi permainan: Satu orang anak diposisikan sebagai tiang yang akan diadu untuk suit pada lawan. Satu anak yang kalah pada sesi hompimpa harus bersedia memposisikan dirinya seperti kuda yang tertunduk seperti hendak rukuk pada saat sholat, dan tangannya bersandar pada anak yang menjadi tiang tadi. Lalu anak-anak lain yang menang pada sesi hompimpa, mereka berbaris satu persatu untuk menaiki punggung si kuda tadi secara bergantian, kemudian adu suit pada si anak tiang, jika si anak yang menunggang menang, maka dia harus berbaris lagi di belakang teman yang lain untuk menunggangi kuda lagi, namun jika si anak yang menunggangi kuda tersebut kalah, maka dialah yang akan berganti menjadi kuda. Begitu seterusnya.

4. Engklek
Deskripsi permainan: Permainan ini biasanya didominasi oleh anak perempuan, namun tidak jarang pulak anak lelaki ikut andil dalam permainan ini. Bentuk engklek ini sangat beragam, mulai dari gambar baju, gambar lemari, hingga gambar manusia. Nah, gambar yang diinginkan digambar di atas tanah, dengan bentuk pecahan kotak-kotak. Misalnya kaki terpisah dengan rok, rok terpisah dengan baju, begitu seterusnya. Kemudian untuk naik tingkat pada pecahan kotak-kotak tersebut harus menggunakan pecahan keramik yang dilemparkan pada gambar kotak-kotak tersebut, atau bahan lainnya yang bisa dijadikan tanda untuk naik level. Mulai dari pecahan kotak terbawah hingga yang paling atas, seorang anak harus melompati gambar kotak-kotak tersebut, dengan tidak menginjak garisnya. Jika garis terinjak maka permainan harus digantikan dengan teman yang lain.

5. Sambar Elang
Deskripsi permainan: Dua anak yang kalah pada saat mengundi hompimpa harus mengambil posisi jongkok dengan tangan saling membentang, kedua anak ini memposisikan tubuh mereka seperti pintu gerbang. Kemudian kedua anak tersebut mengepak-ngepakkan tangan mereka layaknya seekor burung elang dengan gerakan yang berlawanan. Lalu anak-anak lain bergantian melompati kepakan tangan kedua anak tersebut, lompatan tersebut tidak boleh mengenai kepangan tangan sang elang, bila terkena harus menggantikan salah satu dari anak yang tadinya menjadi elang.

6. Patok Lele
Deskripsi permainan: Sekumpulan anak dibagi menjadi dua kelompok, yang kemudian mencari potongan kayu dalam dua bagian, yang panjang menjadi induk dan yang pendek menjadi anak. Kemudian menggalih lubang kecil di atas tanah, setelah itu letakkan anak kayu di atas lubang, lalu kelompok anak yang mendapat giliran untuk main harus melayangkan anak kayu dengan sabetan induk kayu ke arah lawan yang sudah berpencar mengatur posisi untuk menangkap anak kayu yang akan terlempar. Jika anak kayu tertangkap oleh kelompok lawan, maka posisi main digantikan oleh lawan.

7. Tak Tik Bum Wer
Deskripsi permainan: Empat orang anak membentuk lingkaran dan duduk di atas lantai, masing-masing anak memegang alih julukan hukuman, diantaranya tak, tik, bum dan wer. Kemudian saling menghempaskan jari tangan ataupun jari kaki ke atas lantai setelah dikatakan secara serentak kalimat tak tik bum wer, yang artinya tak berarti jitak, tik berarti selintik, bum berarti terkena bum namun bum di sini diartikan bahwa telapak tangan akan dipukul dengan gumpalan satu tangan, wer berarti jewer. Jika hitungan jari berhenti di kata wer, maka anak yang mengambil alih kata wer anakn menjewer tiga anak lainnya. Begitu seterusnya.

8. Yaoma-Yaoma
Deskripsi permainan: Ini merupakan permainan yang saling mengadu nyanyian. Dua kelompok anak masing-masing bergandeng dengan kelompoknya lalu secara bergantian menyanyikan semboyan Kami ini orang kaya yaoma-yaoma. Kemudian kelompok lain membalas Kami ini orang miskin yaoma-yaoma. Titik penghabisan permainan ini adalah ketika salah satu kelompok yang mengaku miskin menyanyikan semboyan bahwa mereka menginginkan anak dari kelompok yang kaya, atau sebaliknya. Diantara yang kaya dan yang miskin sama-sama boleh meminta anak ataupun memberikan anak. Hingga habislah anak mereka, permainan akan diulang kembali.

9. Kereta Api
Deskripsi permainan: Sekelompok anak mengundi dengan hompimpa, dua anak yang terakhir kalah dalam hompimpa harus bersedia menjadi gerbong gereta api dengan saling merekatkan tangan mereka berdua dan saling berhadapan lalu dibentangkan ke atas. Kemudian anak-anak lain saling membahu mengitari gerbong kereta api tersebut sembari menyanyikan lagu naik kereta api. Kemudian setelah lagu kereta apinya selesai maka dua anak yang menjadi gerbong kereta api tersebut akan menangkap salah satu dari anak yang mengitari gerbong kereta. Kemudian dua anak yang menjadi gerbong kereta api tadi berkompromi untuk memilih satu diantara kata benda yang telah disepekati untuk menjadi kata kunci yang akan ditawarkan pada anak yang tertangkap tadi. maka anak tersebut harus memilih satu diantara dua kata kunci, kata lunci yang dipilih akan menentukan siapa yang akan menjadi induknya setelah permainan kereta api ini usai. Karena setelah anak-anak yang tertangkap memilih induknya, maka akan diadu kembali dengan induk lawan dengan cara bermain tarik tambang.

10. Buah-buahan
Deskripsi permainan: Ini jenis permainan yang sangat difavoritkan anak-anak pada masanya. Jelasnya saya lupa bagaimana lirik nyanyian yang dinyanyikan pada saat membentuk lingkaran dan membalas tepukan tangan teman di sebelahnya. Setelah lingkaran tersebut usai dan meninggalkan satu orang anak yang kalah dan biasa disebut penjaga, maka anak tersebut akan mengejar nama anak yang dipanggil pada saat permainan dimulai. Masing-masing anak memiliki nama buahnya sendiri, dan ketika semua anak memposisikan diri dalam keadaan jongkok lalu salah satu anak yang diminta untuk memulai memanggil nama buah, maka nama tersebut harus berdiri dari jongkoknya dan kemudian anak yang menjadi penjaga tersebut harus mengejarnya dan menyenggolnya. Dan untuk mengelakkan kejaran anak penjaga, anak tersebut akan memanggil nama buah yang lain, dan otomatis anak penjaga akan terkecoh dan berbalik arah mengejar nama buah yang telah dipanggil. Namun, apabila ada anak yang terlupa atau tidak sadar bahwa nama buahnya yang dipanggil, maka dialah yang akan berganti menjadi anak penjaga. Seterusnya begitu.
Nah, ini hanya sebagian kecil dari permainan yang tidak menggunakan alat benda yang dibuat oleh pabrik, semuanya utuh diambil dari lingkungan sekitar, seperti pecahan keramik ataupun kayu ranting. Dan masih banyak lagi permainan di masa kecil yang pastinya tidak akan kita temui lagi di masa modern ini. Semua permainan yang tadi sebutkan tentunya akan mengembangkan karakter seorang anak, mulai dari menjadi pemimpin kelompok, hingga berani untuk menerima kekalahan dan bertanggung jawab melewati kekalahannya tersebut. Tentunya dapat dibedakan dengan era smartphone seperti sekarang ini, yang hanya menghabiskan banyak uang dan waktu untuk duduk di warung play station atau bahkan tunduk berjam-jam di depan gadget sambil main game modern.
Permainan kita di masa kecil itu sungguh sangat berkesan, selain bisa sebagai media pembelajaran, permainan-permainan tersebut bisa sambil olahraga, karena tentunya akan mengeluarkan keringat. Berbeda dengan bermain game modern yang hanya duduk diam menatap monitor gadget yang dimiliki. Budaya permainan di masa kecil kita ini patutnya menjadi sejarah yang tidak akan pernah terlupakan, atau mungkin bisa kita budayakan lagi sekarang? Bukankah melestarikan permainan-permainan ini merupakan salah satu bentuk cinta kita pada Indonesia?
Share this article :
 
Copyright © 2013. MING - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger