Tidak terasa ya, hari ini 17 Agustus 2013, Indonesia telah sampai
pada masa tuanya. Bukan mudah menjalani hari-hari selama 68 tahun,
ibaratnya manusia pastinya sudah tua dan sudah tidak kuat lagi menopang
diri sendiri, meski masih punya daya sedikit lagi. Begitu juga dengan
Indonesia yang kian makin tak terkendali lagi. Apanya yang tak
terkendali lagi? Wong Indonesia itu Negara terhebat kok, kaya akan hasil
bumi, pemerintahnya ramah-ramah pada rakyat kecil. Lihat saja kalau
lagi musim kampanye, wah terlihat seperti malaikat banget ya, salut deh
pokoknya sama Indonesiaku tercinta ini.
Benar, Indonesia sudah semakin tidak terkendali. Sering sekali
kudengar di sekitarku bahwa Indonesia sampai kapanpun tidak akan pernah
maju, entah sebabnya. Itu bagi rakyat kecil, yang hidupnya antara makan
dan tak makan. Yang berpeluh-peluh di bawah terik matahari demi seribu
dua ribu perak, demi sejengkal perut yang kian merongrong. Nah, bagi
orang yang duduk engkang kaki di dalam ruangan ber-AC? Indonesia begini
ya sudah jaya sekali toh.
Sebenarnya salah siapa jikalau dikatakan bahwa Indonesia tak mampu
mengendalikan citra buruk dirinya. Negaranya atau rakyatnya? Saya jadi
ingat tentang pendapat seorang teman yang mengatakan ada salah satu
sekolah swasta yang sama sekali tidak layak untuk menjadi tempat belajar
bagi anak bangsa, bukan karena fasilitas, tapi karena citra buruk yang
dimiliki oleh sekolah tersebut. Lalu sebenarnya siapa yang membuat citra
sekolah itu jadi buruk, apa sekolahnya bisa bicara? Hingga ia bisa
menggunjing dirinya sendiri pada para orangtua murid bahwa ia adalah
sekolah yang buruk? Tentu tidak. Itu semua adalah ulah dari murid-murid
yag terlebih dahulu belajar dan menuntut ilmu di sekolah itu sendiri.
Bisa saja beberapa murid melakukan tindakan yang memalukan nama sekolah,
seperti guru-guru yang suka menyiksa murid, atau murid yang hamil di
luar nikah??? Hanya karena ulah satu siswa atau guru, maka habislah
riwayat sekolah tersebut. Seperti pepatah tumpah nila setitik, rusak
susu sebelanga.
Lalu kenapa ada juga yang dapat gelar sekolah favorit, meski sekolah
tersebut bukanlah sekolah yang memiliki nomor urut yang pertama.
Contohnya, sekolah SMAN 3 Medan digelari sekolah terfavorit, kenapa
bukan SMAN 1 Medan? Kan angka 1 lebih awal urutannya ketimbang 3. Nah
begitulah kira-kira, sebenarnya yang membesarkan suatu hal adalah
manusianya. Begitu juga dengan Indonesia.
Berbicara rakyat, jikalau rakyat Indonesia masih menjadi babu di
kandang sendiri, apa dikatakan merdeka? Miris sekali ketika orang
pinggiran yang tidak memiliki latar belakang pendidikan harus
berletih-letih membersihkan rumah warga keturunan asing di Negara
kelahirannya sendiri. Ketika gubuknya hampir hancur diterpa hujan badai
di negaranya sendiri, menatap penuh harap pada gedung-gedung megah di
pinggir jalan raya, yang berdiri kokoh dengan lampu yang kerlap-kerlip
saban malam. Beginikah merdeka itu?
Inilah yang saya katakan bahwa ketika satu tangan ber-ulah, habislah
semuanya. Ketika jatah rakyat kecil masuk ke perut para penjilat, ketika
itulah rakyat mulai meringis. Bagaimana mungkin bisa protes, toh dikala
masuk ke gedung mewah saja di usir satpam kok, toh ketika tubuh
terserang sakit dan merujuk ke rumah sakit saja tidak dihiraukan kok.
Istilahnya, orang miskin itu tidak boleh sakit, tidak boleh merasakan
nikmatnya duduk ber-AC di dalam gedung mewah.
Melihat ketika masih banyak rakyat yang menengadah tangan di pinggir
jalan, di tepian lalu lintas. Bahkan rela menipu Tuhan, menipu diri
sendiri untuk mendapatkan sesuap nasi, meletakkan obat merah di tubuh
yang sehat, berlagak cacat untuk mendapatkan seribu rupiah dari tangan
saudara yang berbaik hati. Malas atau tidak niat bekerja? Lah orang
penerimaan lapangan kerja saja sangat minim, kolusi nepotisme di
mana-mana. Yang diterima kerja hanya mereka yang masih memiliki hubungan
saudara saja dengan mereka, atau bahkan yang rela memberikan suap untuk
mendapatkan satu pekerjaan yang layak, itulah PNS di Negara kita ini,
Bung. Saya bukan berbicara semua PNS begitu, hanya beberapa dari kasus
yang ditemukan saja (maaf jika ada yang tersinggung)
Dan sangat sulit sekali mendefenisikan betapa berharganya kalimat
merdeka yang terlontar dari mulut anak bangsa ketika upacara 17-an
berlangsung di sekolah-sekolah. Dan sangat bangga sekali ketika melihat
sponsor di televisi yang menggembor-gemborkan betapa hebatnya Indonesia
ini, saya bahkan sangat terharu sekali menyaksikan prestasi anak bangsa
yang melambung hingga ke penjuru dunia disampaikan lewat media, melihat
betapa megahnya lautan dan daratan di Indonesia. Dan terlepas dari semua
kebanggaan itu, saya terlebih kecewa ketika melihat kemiskinan yang
merebak di mana-mana, hingga ribuan permohonan terlontar dari mulut
rakyat kecil pada media untuk pemerintah, itu pun tak dihiraukan juga,
hanya dianggap sekedar angin lalu. Negara kita memang sudah merdeka,
tapi rakyatnya?
Home »
» Sudah Merdeka-kah Kita??
Sudah Merdeka-kah Kita??
Related Articles
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.




